Powered By Blogger

Kamis, 13 Juli 2017

rahasia 3 jiwa





kenalkan, aku Ana, kepala dari perusahaan “Say Cheese, and Smile. Co.” Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fotografi, dan design grafis ternama di Ibu Kota Jawa Tengah, yang hingga detik ini telah membesarkan banyak nama fotografer terkenal yang sudah melancong hingga ke mancanegara.

Bukan sebuah rahasia bila aku ini memang terkenal, kaya, memiliki kesibukan yang luar biasa, hingga aku sendiri terkadang harus terbangun di rumah sakit, dengan selang infus tertancap di lengan kiriku, serta oksigen di kedua lubang hidungku. Hanya saja... aku memiliki sebuah rahasia yang cukup membuat orang sulit mempercayainya...

Bahwa...

Aku...

Memiliki...

Diriku yang lain...

Memang, sulit bukan di percaya ? Bagi sebagian orang yang mengenal apa itu psikologi, analisa kejiwaan, id, ego, dan segala istilah yang asing di telinga manusia awam, cenderung memahami apa yang aku rasakan, meski mereka selalu berkata “hanya kamu yang memahami dirimu sendiri.”

Sejujurnya aku bosan !
Aku bosan menipu banyak orang dengan senyuman pahit, aku muak menipu banyak klien dengan tatapan pesona yang membuatku sendiri muntah, setiap kali aku selesai meeting dengan para tamu yang berkunjung pada perusahaanku.

“Bangsat ! Sampai kapan aku begini !” teriakku sesekali meluapkan rasa mual di kamar mandi.
Sudah bukan rahasia besar bagi sebagian orang yang mengenalku dengan sangat dekat, dan, sejujurnya... aku bukan penemu rahasiaku ini...

Yang menemukan latar diriku dengan logika yang lain ini adalah sahabatku, James. Kami bersahabat sejak kami berada di kampus yang sama, dan kebetulan kami adalah satu angkatan, James suka sekali hal-hal yang berkaitan dengan psikologi, dan dia sempat bekerja untuk seorang ahli kesehatan metode timur, selama beberapa bulan sebelum akhirnya dia melepaskan ikatan yang membuatnya dapat mengeksplorasi potensinya dan salah satu temuannya padaku...

Dia menganggap hal ini adalah kesalahannya, hingga dia bekerja keras untuk mencari cara bagaimana agar aku dapat merangkul ketiga pribadiku ini. Meski kadang pada kenyataannya segala cara yang ia berikan kepadaku, hanya ku anggap angin lewat semata.

James memang pernah menyatakan perasaannya kepadaku, hanya saja hingga saat ini aku tidak pernah lagi mengetahui dimana keberadaanya dan sedang apa dia saat ini, karena yang ku tahu terakhir kali kami bertemu, dia hanya menitipkan pesan padaku agar aku menjaga diriku baik-baik.

Sempurna bukan ?

Dari munculnya ketiga kepribadian hingga hilangnya batang hidung James sahabatku ini, aku cukup merasa muak, dan jengah akan kebohongan demi kebohongan yang aku lakukan untuk menutupi segala kemunafikan yang ada.

Kadang ketiga kepribadian ini tanpa ku tahu mengambil alih ragaku dengan cara mereka, dan melakukan keinginan mereka yang ingin mereka lampiaskan lewat tubuhku ini, yah... salah satu dari mereka sangat haus akan seks.

James mengatakan pribadi ini muncul karena pelecehan yang pernah aku alami, bahkan sejujurnya saat itu aku merasa kaget dan ingin berkata “Bangsat ! Dari mana James mengetahui semua itu ?”

Namun aku sendiripun merasa aku menyembunyikannya dengan rapih, dan hanya aku dan Tuhan saja yang tahu, mengapa James pun ikut mengetahuinya ?

Cerita yang cukup membuat kehidupanku pahit dan hina, yang aku ingin ucapkan adalah “terkutuklah bajingan itu !”

Kenapa James harus mengetahuinya juga ?

Tapi bukan aku yang memberi tahunya ? Apakah sisi lain diriku ini ?

James mengatakan namanya Sissy, dia adalah bagian diriku yang haus akan kepuasan seksual, hingga James pun sebenarnya pernah mengatakan dia hampir ikut dalam rayuan Sissy. Hanya dia segera sadar dan meluruskan kembali celananya yang melorot.

Tapi Sissy bukanlah pribadi yang menurut James menyebalkan, ada bagian lain dari diriku yang James kenal sebagai “Grace.”

Kalian pasti mengira nama ini adalah seperti artinya “anugerah” padahal nama ini adalah nama musibah terdahsyat menurut James, yang membuat amarah meledak seperti meletusnya Gunung Krakatau.

Grace dan James pernah berdebat hingga tiga jam selama mencari tahu apa yang sebenarnya Grace mau dari tubuhku ini. hingga akhirnya James kalah dan pingsan hingga tiga hari lamanya.

Grace adalah pribadi yang cukup tangguh dan keras kepala, dan ku akui aku pernah hidup di dalam emosi yang di miliki oleh Grace saat aku masih SMP, hingga aku mulai berubah saat aku SMA.

Tapi masih ada tersisa satu bagian yang juga aku miliki, yang menurut James adalah pribadi yang paling manis, namun cukup penakut dan mudah menangis, ia bernama Mentari, seperti namanya, dia pribadi yang cerah namun penakut dan mudah rapuh.

James hanya dapat berbicara padanya hanya kurang dari lima menit, setelahnya sisi lain yang akan mendominasi untuk menggantikan Mentari.

Hanya saja..

Aku merasa bahwa, hanya James yang mengetahui semuanya ini. Dan sekarang ia pergi begitu saja meninggalkan ku tanpa jejak sekecil apapun.

“James... kamu di mana ? Aku membutuhkan bantuanmu, sekarang kau pergi meninggalkanku dengan teka-teki yang membuatku bingung.”

............................................................................................................................................................

“Ana...”

“James ? James, dimana kamu James ?”

“Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi aku ingin memberitahumu sesuatu yang belum aku sampaikan saat ini”

“James... tapi ?”

“Ana... dengarkan, ada sebuah kertas di tasmu, di kantong kecil yang ada di dalam. Itulah jawaban yang kamu cari.

“Tapi James...”

“Sudahlah Ana, aku harus pergi...”

“James... James... JAMES !!!”

Hah... ternyata ini hanya mimpi ? Oh Tuhan... kenapa harus lewat mimpi ? Ah iya, aku harus segera mengambil apa yang James beritahukan kepadaku.

Dan ternyata benar, ada sepucuk kertas yang membuatku cukup tercengang, dan kaget bahwa sebenarnya...
Aku menangis, tak sanggup aku membacanya lagi. Dan... sebuah catatan yang menghujam hatiku bahwa sebenarnya...  

James adalah bagian dari imajinasiku belaka...

James adalah bagian yang hanya ada di dalam kenyataan pikiranku.

James adalah...

Ah...

Anggaplah aku tak pernah menceritakan hal ini...

Pada siapapun juga.

Bahkan...

Padamu.

............................................................................................................................................................