Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Motivate our self. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivate our self. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Januari 2015

Ebook Baru lagi :D

Hai semua berjumpa lagi dengan saya "MIKHA" dan kali ini saya telah membuat mini ebook yang bisa anda download di sini


http://www.4shared.com/office/FShGT3WRce/Kamu_adalah_Tuhan.html


Ingat ini bukan ebook yang membuat anda lupa pada sang pencipta, tetaplah cerdas dalam membaca :D

Minggu, 11 Januari 2015

Ebook di tahun 2015 :D

hey hey hey welcome to my blog and selamat berjumpa kembali kembali berjumpa bersama saya Mikha Khannaniel Pranowo :D

dan kali ini tanpa basa basi di tahun 2015 ini saya udah buat 2 ebook free yang bisa kamu download, untuk ebook dan tulisan saya berikutnya silahkan pantengin aja ya :D

nih alamat linknya :D

http://www.4shared.com/office/TAYhu2ewce/Life_in_Magician_Prespective.html

dan satu lagi

http://www.4shared.com/office/bU2gzNuNce/Im_still_stand_up_buddy.html


enjoy ye :D

see ya :D

Rabu, 24 September 2014

Realita Vs Opini Massa





Pernahkah kalian mendengarkan seseorang mengatakan bahwa semisal ia makan di sebuah warung kopi X dan akhirnya dia mengatakan bahwa warung kopi di situ pemiliknya galak dan kurang ramah, atau harganya mahal dan kurang enak. Sedang bagi sebagian orang yang makan dan menjadi pelanggan di sana bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Begitulah hal yang saya alami kemarin saja, ketika saya sedang berada di dalam kelas berbicara jepang level menengah satu bersama seorang sensei yang (nuwun sewu) di doktrin sebagai seorang sensei yang “totemo kibishii” (sangat galak) dan jahat, dan segala yang kurang patut di hadapkan ke padanya. Padahal ? ketika saya baru belajar pada beliau dalam dua kali pertemuan saya bisa menilai beliau bahwa memang ketika beliau mengatakan

“saya teh memang bisa di bilang kibishii, tetapi saya sih cuek aja kalau kalian mau bilang apa saja sama saya, peduli amat ? Gaji saya teh tetap yah ?”

Begitulah kira-kira ungkapan yang di ungkapkan oleh sensei (dosen) saya saat mengajar kami, maka dari itu saya ingin mengangkat sebuah realita dan opini massa yang kadang-kadang jauh berbeda.

Karena terkadang apa yang di katakan seseorang dengan realitanya itu sungguh berbeda, maka apa penyebabnya ? Apa yang membuat itu berbeda dan apa yang membuat itu terasa menyakitkan ? adalah...

1.      Bagaimana kita menangkap dan menanamkan segala sesuatu yang kita terima sebagai sesuatu yang membangun diri kita ataukah malah membuat kita semakin terpuruk ?

2.      Ketika kita mengalami fase yang menyudutkan sekalipun, bagaimana cara kita memahami hal itu memengaruhi apa yang kita lakukan nantinya.

Dan ketika kita bisa memberikan sebuah opini tersendiri yang memang memberikan dampak yang berbeda dan dampak itu justru menguntungkan posisi kita (meskipun posisi itu seakan menyulitkan dalam arti yang belum mampu di pahami oleh diri kita dan maupun orang lain), maka percayalah bahwa apapun yang engkau lakukan atau engkau berikan, semua itu boleh menjadi hal yang baik dan percayalah bahwa semua itu menjadi sebuah keuntungan besar nantinya :D

Aamin :D

Orang Tua Adalah Teladan Anaknya





Pernahkan anda mendengar ungkapan “air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga” atau “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” sebuah ungkapan yang sebenarnya sama-sama menggambarkan bahwasanya seorang anak itu mengikuti atau meneladani apa yang ia copy dan yang ia serap lalu tanamkan di dalam dirinya sebagai sistem kepercayaan (belief system) dan sebagai gambaran diri (self image) yang ia dapatkan dari kedua orang tuanya.

Meskipun secara genetika, bahwa ½  gen ibu turun ke anak laki-laki dan ½ gen ayah turun ke dalam diri mereka secara kimiawi, namun ½ bagian lagi adalah bawaan dari diri mereka sendiri. Meski begitu karakter juga terbentuk dari lingkungan kehidupan mereka yang paling terdekat dan paling pertama yaitu keluarga, kenapa ? Karena sebelum mereka mengenal dunia dan melihat dunia dari jendela kamar masing-masing, keluarga adalah agen sosial pertama dan terutama serta yang paling dekat dengan individu itu sendiri.

Meskipun kadang saya sendiri menganggap bahwa betapa luar biasa galaknya kakak perempuan saya, dan kadang betapa menjengkelkannya nasehat papa saya, juga kadang betapa nyebelinnya permintaan mama saya yang kadang menggelikan juga untuk di laksanakan (meski itu adalah asumsi saya, logikannya tidak).

Namun keluarga adalah agen sosial pertama dan terutama dalam hidup tiap individu.

Contohlah bahwa anda memiliki pasti teman kerja, rekan seprofesi, rekan sehobi, sahabat, keluarga. 

Dan ketika anda capek, ketika anda butuh istirahat, ketika anda tidur, beraktifitas, rumah siapakah yang anda tuju ? Apakah rumah sahabat anda ? Rekan kerja anda ? Atau rumah anda ? Dimana keluarga berkumpul di situ ? (meskipun itu PIM = Pondok Indah Mertua sekalipun ?)

Dan seperti kutipan kata mutiara yang mengatakan :

“seburuk apapun, semiskin dan semenderita apapun kehidupan keluargamu, tetapi api dalam bara yang merahpun tak bisa menggantikan kehangatan dari hangatnya berkumpulnya sekelompok manusia dalam hubungan keluarga.”

Maka ketika seorang anak yang ingin pulang dan mendapati kehidupan keluarganya berantakan, dan dia lalu lari ke narkoba dan kita menyalahkan dia karena keluarganya aja gak bener, apa lagi anaknya makin gak bener ! Kitalah yang seharusnya MALU !

Ada sebuah contoh yang nyata, saya dapatkan ini ketika saya sedang ngopi pagi sebelum saya pergi ke klinik tempat saya bekerja. Saat itu saya tak sengaja memberi nasehat kecil pada seorang anak tetangga yang memang cukup akrab dengan saya, dan tanpa sengaja terlontar sebuah kalimat dari mulut saya yaitu :

“Amit-amit kalau nanti membesarkan anak, anakku nakal dan manjanya minta ampun.” Begitulah kira-kira kalimat yang terlontar dari mulut saya ini.

Setelah seorang bapak yang dari tadi diam mendengarkan celotehan saya, dia mulai memberikan respon terhadap apa yang saya katakan...

Intinya ketika saya memberitahu bahwa saya masih 19 tahun, bapak itu lantas mengatakan.

“Semua itu kembali lagi mas ke orang tuanya...” sebuah kata yang cukup bijak dan memang sangat dalam untuk saya renungi setiap hari selama saya belum mendapatkan cinta dari seorang jodoh yang sesuai.

Dan dia menambahkan sebuah cerita yang cukup mencengangkan, bahwa temannya dia, teman satu perjuangannya itu mendapati anaknya ternyata mencuri uang ibunya sendiri sebanyak $.10.000 ??? WOW jumlah yang cukup mencengangkan !!!

Namun setelah saya dapatkan informasinya, ternyata ??? Dia kabur selama 3 hari di sebuah mall warnet hanya untuk menghabiskan $. 10.000 tersebut, dan yang mencengangkan adalah dia mengatakan bahwa dia melakukan seperti itu karena meniru apa yang di lakukan oleh bapaknya.

Sungguh mengenaskan namun mau bagaimanapun anak tetaplah hasil buah perbuatan dari orang tua mereka, namun ketika kita menanamkan kebaikan maka kiranya kita boleh menuai yang baik nantinya, aamin.

Belief System Haruskan Lari Dari Realita ?




Anda pernah mendengar istilah bahwa ketika cinta melekat bahwa tai kucing rasa coklat ? Ya memang itu adalah sebuah perumpamaan bahwa ketika cinta sedang getolnya di rasakan maka apapun yang terjadi bak gunungpun kan di daki, laksana tsunami kan di terjang dan badaipun kan di lewati, namun ketika di tanya “kenapa kemarin gak jadi datang ke rumahku ?” dan hanya senyum sambil di jawab “kan gerimis sayang” #Gubrak -___-

Dalam hal ini saya ingin menuliskan opini saya tentang “selief system” dan realita, untuk anda yang menjadi praktisi hypnosis atau belajar hypnosis pasti mengetahui istilah di atas, namun agar anda yang belum mengetahui arti istilah di atas saya ingin menjelaskan sedikit tentang “belief system.”

“adalah suatu sistem / ajaran yang tertanam di dalam diri manusia dan ada di dalam bawah sadar manusia sebagai suatu nilai yang berlaku hingga saat ini, karena berasal dari apa yang sudah di tanamkan sejak mungkin dari dalam kandungan”

Contoh :
Seorang yang memiliki keyakinan tinggi terhadap agama yang di anutnya, misalnya Islam. Dan di suruh berpindah agama lain atas dasar paksaan, sudah di pastikan dia pasti menolak karena Islam adalah sesuatu yang sudah menjadi dasar yang kuat yang sudah menjadi pondasi awal sejak dia kecil.

Dan setelah mengetahui apa yang menjadi arti kata di atas, saya bisa lebih mudah melajutkan ke paragraf berikutnya.

Setelah mengetahui apa itu belief system, saya ingin membahas tentang hal itu apa kaitanya dengan realita dan apakah harus lari dari realita ?

Secara gampangnya saya katakan HARUS sesuai dengan realita (terutama penanaman tentang belief system yang baru), karena jika itu bertentangan dengan realita yang terjadi dan tetap di paksakan untuk di tanamkan maka kan terjadi sebuah permasalahan yang di sebut “fake false memory” (memori palsu yang salah).

Contoh untuk kasus ini seperti yang di alami oleh Bapak Anand Krisna, karena di tuduh melecehkan seseorang dan ketika di tanyakan kebenarannya terjadi kejanggalan yang terjadi, antara bukti dengan kesaksian ada sesuatu yang ganjil terasa. (untuk kasus lebih lanjut silahkan cari sendiri tentang permasalahan kasus Anand Krisna).

Contoh lain adalah :

Ketika banyak orang yang merokok dan mengepulkan asap hitam pekat yang sangat mengganggu beberapa orang yang bukan menjadi perokok, dan lalu munculah peringatan di setiap bungkus rokok sebuah peringatan misalnya “merokok membunuhmu” dan berbagai peringatan yang lain yang sebenarnya bersifat membodohi menurut saya sih (meskipun memang saya menyarankan anda yang ingin berhenti untuk merokok pada ebook saya “self stop smoking” menggunakan metode subminal message, namun yang saya sarankan hanya gambarnya saja yang di gunakan tanpa tulisannya).

Kembali lagi ke awal pembicaraan kenapa saya menganggap kalimat itu membodohi ? Ya jelas saja sebenarnya membodohi, meskipun itu realita (bahwa rokok itu memiliki zat beracun yang mampu meracuni darah dan berbagai organ tubuh, namun penggunaan tulisan itu malahan justru menurut saya memberikan efek seakan rokoknya yang salah, dan produsen rokok harus berhenti berjualan saja.

Dan jika masih ingin berjualan maka, di setiap bungkusnya harus di tempeli kenyataan bahwa nantinya para perokok harus menderita seperti itu. Meski realita begitu namun sebenarnya tak harus seperti itu lah, seakan rokoknya yang menjadi kambing hitam dan bukan saya mendukung para perokok (karena cara berhenti untuk merokok sudah saya jelaskan di ebook saya).

Dan kadang kesalahan seorang therapist adalah mendogma bahwa rokok itu jahat, rokok itu membunuhmu, dan ini dan itu, itu memBODOHi sangat menurut saya. Karena memberi pengertian seperti itu justru kurang memberikan efek jera dan justru malah parahnya adalah ketika mereka mengetahui kenapa rokok ini rasanya pahit dan jadi kurang sedap jadilah mereka menemukan penyebab dan kembali merokok, dan apa yang harus di lakukan sudah saya sediakan petunjuknya menurut opini saya di ebok saya yang tadi sudah di jelaskan. Yang intinya berikanlah opsi lain yang baiknya memberi pemberdayaan dan juga adalah opsi yang di buat tanpa memberikan efek menjelek-jelekan suatu hal lain sebagai kambing hitam.

Maka penanaman sebuah belief system haruslah :

Sesuai dengan realita (maksudnya adalah ketika di tanamkan harusnya memberikan pemberdayaan tanpa menjelekan dan membuat pengertian jahat suatu hal / suatu benda) dan juga sugesti itu memberikan efek dimana seseorang mampu menerimanya dengan sukacita dan damai tanpa nantinya menyalahkan dirinya atau orang yang membantunya apabila belief system yang di tanamkan ini ia langgar sendiri.

Kalau di tanam sendiri maka ketika ia langgar atau ia rasakan sebagai sesuatu yang mustahil, maka sebelum di tanamkan belief system, hendaknya ia memilah dan memilih apa yang baik dan apa yang buruk sebelum ia tanamkan terhadap dirinya sendiri (Reframe).

Sekian tulisan dari saya dan sampai jumpa dalam tulisan berikutnya, banyak kekurangan mohon di maafkan ya.

Rabu, 17 September 2014

Sosok otoritas tertentu versi anak



Sosok otoritas tertentu versi anak


Pernahkan anda mendengar sebuah pernyataan bahwa, “Raja Hutan” adalah Singa ? Dengan wibawanya, keperkasaan dan aumannya membuat siapa saja patuh dan tahluk serta hormat dengan makhluk yang satu ini, namun bayangkan kalau ini adalah sosok yang di anggap galak tapi di takuti (lho ?) emang ada mas ? Adalah...

Siapa itu ? Ya kadang Guru, Teman, Pacar, atau Ortu kita sendiri.

Namun karena saya ingin memberikan sedikit opini saya maka saya hanya ingin membahas tentang otoritas orang tua kepada anaknya, dan apa akibat otoritas yang terlalu mendalam yang menancap di dalam otak anak tersebut ketika ia terlalu melihat sosok otoritasnya menjadi sebuah momok menakutkan yang ia harus takuti ketika ia berada di sekitarnya dan menjadi sebuah kebebasan yang tanpa bertanggung jawab ketika ia pergi dari sekitarnya.

Contoh :

Saya menancapkan figur otoritas seorang mama kedalam jiwa dan kehidupan saya, apabila saya melihat ibu yang lain sedang kesusahan maka sering kali tergeraklah hati saya untuk menolong ibu tersebut (dan juga kalau pun dia sering bertemu atau menolong saya dalam kesusahan). Maka secara otomatis ketika saya menancapkan ke bawah sadar saya sosok ibu sebagai otoritas saya maka ibu yang lain pun hampir semua saya perlakukan secara sama seperti ibu saya (kadang justru saya sedikit menjilat, jadi maafkan saya kalau masih berdosa wahai para ibu T.T).

Beda lagi dengan adik sepupu saya yang menanamkan figur seorang ibu juga yang bedanya adalah kalau mama saya itu lembut, disiplin namun menerapkan kasih dan mengajarkan kepada kami dua anaknya untuk melihat terlebih dahulu caranya, atau untuk menolak permintaan kami dengan halus, serta mengganti jajanan ringan kami kalau itu berMSG dengan es krim (meski itu lebih mahal sedikit) namun semua itu merasuk ke dalam jiwa kami.

Berbeda dan sungguh miris dengan sosok figur otoritas yang di tanamkan oleh saudara sepupu kami, karena dari kecil ia nyaris salah didik (tapi ya mau gimana jadinya gitu deh), maksudnya gimana ?

Begini contohnya :

Dia di belikan mainan mahal-mahal karena ibunya berpikir aku sudah 1 minggu tidak bertemu dengan dia, maka sebaiknya aku belikan saja mainan agar ia tetap sayang padaku.

Dia di belikan makanan setumpuk gunung agar ibunya merasa dia berkecukupan selama seminggu dan bisa makan, tanpa harus berebut dengan saudaranya.

Dia di berikan masing-masing benda sendiri-sendiri (mainan, makanan) alasanya agar tidak berebut dan tanpa harus berbagi.

Dan dia melihat sosok ibunya yang suka berkata kasar (tanpa sadar) cara dia berperilaku, dia bertutur kata dan berkata pada orang tua sangat kasar dan sangat brutal (pokoke suka-suka aku selama mama gak ada disini) begitulah yang saya rasakan entah gimana kalau yang lain ngerasakan, bodo amat...

Kesimpulan dari cerita saya adalah :

Dia dan saudaranya sama-sama menanamkan sosok figur ibu yang galak, suka menyuruh tanpa di beri tahu caranya, suka menghamburkan uang dan (maaf) pernah memberikan dogma bahwa “ayah” kandungnya adalah seorang yang jahat dan sama sekali tidak sayang kepada dia (penanaman memori kebencian), dan perilaku suka berteriak-teriak dan berkata seperti orang bar-barpun tetap di lakukan meski sudah berulang kali di pukul dengan sapu dan di marahi secara normal. Tetapi apa yang di dapatkan ? Just bukak iket blangkon, sama saja sami mawon hmmmm...

Maka itu saya jadi berpikir lagi, apakah saya nanti bakalan menikah ? Apakah saya nanti bisa mendidik anak saya dengan baik ? Apakah saya nanti bisa membesarkan mereka dengan baik ? Mau jadi apa mereka ?

Kadang ketakutan itu melanda diri saya, namun yah itu masih jauh saya bisa pikirkan selagi saya muda tapi boleh saya pikirkan sebelum semua terlambat, BETUL ???

Maka saya sarankan jika anda memang membutuhkan konseling anak dan konseling tentang parenting anda bisa menghubungi segera psikolog anak atau Hypnotherapist yang menangani soal parenting, karena sosok otoritas yang salah membuat anaknya susah untuk menghargai orang lain sebagaimana seseorang itu menghargai orang lain sama seperti sosok otoritasnya, apa lagi kalau sejak dari kecil di tanamkan sesuatu yang buruk dan sama sekali tanpa ada niatan untuk merubah dan berubah dari diri sendiri dan orang tuanya, waduh ngeri...

Oke sekian tulisan saya, dan trimakasih untuk kesediannya membaca tulisan saya :D