Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Bahasa dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa dan Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2015

Pragmatik dalam Hypnotic Pattern



Dalam kesempatan kali ini saya kembali menulis tentang sebuah tulisan singkat dan sederhana namun saya harap membawa sebuah pengetahuan yang bisa di bagikan secara mudah dan menyenangkan, dan hebatnya adalah saya mendapat pengetahuan ini ketika saya mengikuti mata kuliah linguistik jepang dan saat itu pembahasan paling menarik adalah tentang “Pragmatik”
Pragmatik adalah cabang dari linguistik yang mengkaji bahasa dari segi pengguna atau tindak tutur penggunanya (pada setiap tindak tutur terdapat maksud yang terkandung di dalamnya = Implikatur) dan ternyata dalam hypnosis perlu di perhatikan juga pola bahasa dan apakah yang kita sampaikan itu sudah benar sampai dan menjadi nilai yang baru untuk klien yang kita hadapi ?
Baiklah, pembahasan kita mulai dari “Implikatur.” Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, implikatur adalah maksud dari tindak tutur yang disampaikan dan dalam penyampaiannya terdapat maksud tertentu. Contoh dari “Implikatur” misalnya begini :

“Bro... kamu kan tahu kita itu berteman baik sudah lama

Kata yang saya tebalkan dan beri garis bawah itulah yang di namakan implikatur, karena dalam penyampaiannya mengandung maksud tertentu dan maksud tersebut tersebut tidak di sampaikan secara langsung melainkan memiliki banyak makna di balik itu (karena makna yang di sampaikan bermakna denotatif atau bermakna ganda).
Namun dalam penyampaiannya agar dapat di pahami oleh lawan bicara, “Implikatur” memiliki 4 maksim/aturan yang harus di taati yaitu :

Maksim Kuantitas :
Artinya dalam berbicara kita wajib berbicara secukupnya dan dalam porsi yang pas. Contoh yang salah misalnya
“Nanti tolong kamu turun kebawah dan ambilkan barang yang ada di atas meja saya itu.
Tahu di mana letak kesalahannya ? pada kalimat turun kebawah di situ mengandung pola yang di sebut pemborosan kata, dalam majas di sebut majas “pleonasme” adalah salah satu majas penegasan namun penegasannya tidak wajib di tuliskan. Dan di kalimat ada di atas meja saya itu mengandung keambiguan, karena si pemberi perintah tidak memberikan perintah yang jelas tentang benda apa yang di maksud.
Dalam hypnosis kita wajib menghindari makna ganda, kecuali anda memang sengaja menggunakan kata ambigu sebagai pola bahasa yang memang ingin anda mainkan sebagai salah satu sugesti anda, namun hati-hati dalam menggunakannya jika salah nanti malah mengandung arti yang membingungkan bahkan klien tidak paham dengan sugesti yang di tanamkan maka dari itu berikan ketegasan dan kalimat yang pas dalam menanamkan sugesti ke diri klien.

Maksim Kualitas :
 Memberikan Informasi yang benar kepada seorang, jika seseorang mengatakan A maka apapun terjadi informasi yang tadinya A itu harus tetap menjadi Informasi yang tetap A, jika informasi A itu berubah menjadi B atau C atau yang lainnya berarti ada kesalahan penyampaian ketika informasi di sampaikan dan kemungkinan ada kesalahan penerimaan atau kesalahan penyampaian.
Maka dalam hypnosis jika kita menanamkan informasi haruslah benar dan bersifat dapat di terima terhadap keyakinan dan apa yang dia percayai, jika kita menanamkan informasi yang salah, maka berbahaya jika terjadi false memory dalam diri klien.

Maksim Relevansi :
Dialog yang di lakukan haruslah benar, cara termudah dalam memahami maksim ini ialah ketika kita berdialog soal harga BBM misalnya, nah haruslah apa yang di bicarakan di dalam dialog itu baiknya dan cara penyampaiannya serta data-datanya masih ada sangkut pautnya dengan kenaikan BBM, kalau kenaikan BBM di sangkutkan dengan maraknya aksi begal, lalu di sangkutkan juga dengan adanya demo soal pemerintahan, nah ini gimana mau menjadi dialog yang benar ?
Yang ada malah menjadi dialog yang kacau balau plus menyesatkan, dan ujung-ujungnya hal-hal yang kurang di inginkan malah terjadi. Dan tentunya anda ingin kan kalau pertemua dengan klien itu berujung ke kesembuhan klien bukan ke mana-mana ?

Maksim Cara :
Dan yang terakhir ialah cara, cara menentukan bagaimana penyampaian makna yang di inginkan bisa terwujud, dua cara dalam penyampaian bahasa ialah verbal dan non verbal. Verbal berarti menggunakan bahasa sebagai media atau alat penyampai makna satu ke makna lainnya, sedangkan non verbal bisa dengan bahasa tubuh, gerakan tangan, mimik muka, bahkan bahasa mata serta beberapa hal yang belum saya jelaskan di sini (maklum keterbatasan, hehehe...)
Cara juga sangat penting dan bahkan menjadi pondasi bagaimana anda ingin membawa klien menuju kondisi trance dengan aman dan nyaman, contoh :
Anda menerapi seorang peselam, tetapi cara yang anda terapkan ternyata masih salah dengan memasukan kata “dalam” sebagai kosa kata yang baku untuk melakukan deepening, kata “dalam” bagi peselam jika membayangkan laut maka artinya itu membuat dia menyelam ke dasar yang lebih lagi, padahal realita dalam pikiran itu efeknya luar biasa bahkan salah-salah bisa membunuh orang tersebut.
Perhatikan cara anda melakukan therapy, bahkan perhatikan kata yang anda pakai sekalipun, ingat, salah cara timbul bencana.

Dan dalam pragmatik sendiri komunikasi di susun menjadi tiga tahap yaitu

Lokusi yang artinya “struktur kalimat secara fisik” bisa dengan tulisan, bisa dengan ucapaan bahkan dengan bahasa tubuh
Selanjutnya ada Ilokusi “Maksud kalimat yang di ucapkan pembicara” mengandung makna apakah dan apa yang ia katakan ?
Terakhir ialah Perlokusi “Reaksi penerima maksud dari Ilokusi” dalam hal ini lawan bicara dan apa respon di balik itu

Jika di tuliskan sebagai contoh, misalnya...

“Semuanya...” (di ucapkan dengan pelan, namun dengan hentakan tangan ke meja)
Beberapa detik yang lantas memberikan efek berpikir cepat dan akhirnya mahasiswa pun diam.

Well itulah kira-kira secuil ilmu pragmatik yang bisa saya jabarkan untuk anda, semoga bermanfaat dan berfaedah, trimakasih...

Jumat, 12 September 2014

Membudayakan budaya kita




Membudayakan budaya kita


Dan sebuah tulisan ini aku tujukan kepada kita semua manusia yang kadang lupa akan budaya kita sendiri, budaya nenek moyang yang di wariskan melalui banyak hal, dan di wariskan secara turun temurun. Sebagai sesuatu yang sebenarnya abadi dan kekal jika saja kemajuan jaman tetap menjaga bahkan mendampingi di setiap perjalanan waktu.

“Jawa” kenapa saya menyebut kata jawa ? Alasannya sederhana, saya orang jawa dan lahir di jawa (meskipun pada kota jawa saja perbedaannya sangat kental di sana-sini) mulai dari bahasanya, cara ndalangnya, masakan khas daerahnya, dan sebagainya.

Menariknya bagi sebagian orang, mengenal budaya sendiri itu sama saja seperti orang desa pergi ke kota (bahasa jawanya itu “Ndeso” = Kampungan = Udik) padahal ya gak gitu juga kaleee. Gak percaya ?

Ada satu pengalaman saya ketika berbincang-bincang dengan seorang guru saya saat saya berada di kantin sekolah (posisinya saya sudah jadi alumni), beliau berkata pada saya bahwa dulu salah seorang muridnya yang bekerja sebagai resepsionis bertemu dengan orang asing. Menurutnya semua orang asing itu ya paling bisa hanya di ajak bicara dengan bahasa inggris (di anggap bahasa paling universal atau bahasa kerennya Lingua Franca).

Namun asumsi ini berubah menjadi Ass U Me bagi dia, dan menancaplah bumerang yang harusnya dia tangkap malah mengenai jidatnya (itu hanya perumpamaan saja) maksudnya, ketika dia menanyai dengan bahasa inggris ternyata si bule ini bisa bahasa JAWA saudara-saudara wkwkwkwwk :p.

Dan yang terjadi adalah percakapan antara si bule dan kakak kelas saya itu adalah, si bule bertanya panjang lebar, dan ia hanya bisa menjawab “nggih” = ya dalam bahasa jawa, sungguh tragis dan miris ketika bule itu terakhir berkata “wong Jawa kok mung isa nggah-nggih nggah-nggih” (orang Jawa kok cuma bisa bilang ya ya ya ya).

Betapa memalukannya bagi kita terutama, dia yang mengalami sakit hati yang tak mampu terbalaskan, kenapa ? Karena dia memang orang Jawa dan ketidakmampuannya berbahasa Jawa halus itu sama seperti orang inggris yang lupa bagaimana caranya berbicara dengan bahasa inggris, ini kan rasanya sakit tapi ya harus di terima karena dia sama sekali hanya bisa berkata “ya” dalam bahasa jawa. #Tragis #SakitnyaTuDiSini (nunjuk dengkul)

Dan saya hanya mau katakan padamu, bahwa sebagai orang yang mencintai budayanya, dan bingung harus memulai dari mana ? Saya hanya bisa berkata “Pelajarilah BAHASAMU” itu sebenarnya sudah awal dan langkah yang baik, dari pada kamu capai-capai memaksakan kehendakmu untuk mempelajari aksara murda, aksara kawi dan bahasa sansekerta kuno, haduh...

Cukup dengan pelajari bahasamu terlebih dahulu saja itu sudah cukup membuat kamu menghargai budayamu, meski salah meski kurang tepat dalam mengucapkannya, itu lebih dari cukup untuk orang lain boleh mengetahui bahwa kamu menghargai budayamu dan kamu terbukti sudah bisa menghargainya.

Apabila kata orang harus membeli batik, membeli wayang, menonton wayang semalam suntuk, dan harus mengikuti upacara berbumbu khas kejawen itu WRONG !!! Hello ??? Loe boleh ikutan kalau loe suka tapi loe juga boleh mengapresiasi itu lewat cara loe berbahasa dulu aja, itu udah cukup bagus, kecuali emang ada hasrat untuk belajar lebih dalam.

Karena pada jaman pra aksara (sebelum di temukan tulisan) manusia hanya berkomunikasi dengan gambar dan bahasa, dan bahasa itulah yang juga di gunakan untuk menurunkan berbagai cerita rakyat dan foklore (di jaman aksara pun saat itu belum di temukan kertas untuk menuliskan apa yang ingin di catat sebagai sejarah).

Jadi manusia menggunakan bahasa untuk menurunkan cerita rakyat dan foklore kepada generasi di bawahnya (untung aku dulu belajar antropologinya ada yang nyantel, hahaha :p ).

Lalu bagaimana dengan budaya Sunda, Betawi dan budaya yang lainnya ? Ya sama saja, min kuasailah bahasamu karena itu adalah cerminan dari dirimu yang memang mencintai budayamu ataukah kamu merasa bahwa budayamu adalah budaya yang kuno ?

Selamat belajar :D trimakasih atas kesediaannya membaca tulisan ini :D GBU :D